TRANSISI ENERGI DAN INVESTASI ENERGI TERBARUKAN ALA BPSDM ESDM DALAM PESRPEKTIF KELAS KEUANGAN BERKE

" TRANSISI ENERGI DAN INVESTASI ENERGI TERBARUKAN ALA BPSDM ESDM DALAM PESRPEKTIF KELAS KEUANGAN BERKE "
sri asih

TRANSISI ENERGI DAN INVESTASI ENERGI TERBARUKAN ALA BPSDM ESDM DALAM PESRPEKTIF KELAS KEUANGAN BERKELANJUTAN

Dalam rangka penyelenggaraan Kelas Keuangan Berkelanjutan dengan tema “Transisi Energi dan Investasi Energi Terbarukan” yang diselenggarakan atas kerjasama antara BPSDM ESDM Kementerian ESDM, Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI), PT Bank HSBC Indonesia, dan WWF Indonesia pada hari Jumát, 4 Desember 2020 secara daring melalui Zoom.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Energi dan Sumber Daya Mineral Prahoro Yulijanto Nurtjahyo dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional menetapkan target bahwa pada Tahun 2025 setidaknya 23% porsi bauran energi nasional berasal dari implementasi energi baru dan terbarukan (EBT), pada semester pertama Tahun 2020, capaian porsi pembangkit listrik EBT di Indonesia telah mencapai 10.427 MegaWatt atau 14,69% dari total kapasitas terpasang pembangkit nasional sebesar 71 GigaWatt, jelasnya.

Penyediaan tenaga listrik nasional dalam RUPTL 2019-2028 menyiratkan bahwa total kapasitas tambahan pembangkit listrik yang akan dibangun hingga Tahun 2028 adalah sekitar 56,39 GigaWatt dengan gambaran bahwa:

- Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara masih akan dikembangkan dalam 5 tahun ke depan dan kemudian secara bertahap akan berkurang.

- Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) akan dikembangkan relatif konstan setelah tahun 2019.

- Pembangkit listrik Energi Terbarukan akan dikembangkan relatif konstan hingga Tahun 2024 dan kemudian akan meningkat secara signifikan pada Tahun 2025.

- Dalam periode RUPTL tersebut, diagendakan penambahan pembangkit EBT sebesar 16,7 GigaWatt yang didominasi oleh penyediaan energi dari tenaga air (57%) dan energi panas bumi (27%) dan sisanya dipenuhi oleh varian pembangkit EBT lainnya, paparnya.

Terhambatnya akses pendanaan utamanya disebabkan oleh asumsi bahwa subsektor EBT masih berisiko tinggi dalam investasinya, yang antara lain dilatarbelakangi oleh tingginya biaya pembiayaan, terbatasnya ruang LJK dalam memberikan tenor yang panjang, penghindaran risiko, kerangka kebijakan yang belum efisien serta keterbatasan pemahaman para LJK, dan hambatan ini tersebar di seluruh fase proyek energi terbarukan, oleh karena itu, setidaknya di tahap awal, LJK perlu mempunyai pemahaman yang lebih baik secara menyeluruh agar memungkinkan LJK untuk berinovasi dalam mengembangan produk dan fasilitas keuangan dengan keterbatasan yang ada. ungkap Prahoro.

Sejalan dengan visi dan misi BPSDM ESDM dan dalam rangka mewujudkan Fokus Pembangunan Nasional Tahun 2020-2024 yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia, BPSDM ESDM bekerja sama dengan Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI), HSBC Indonesia, serta WWF-Indonesia menyelenggarakan kelas daring yang bertujuan untuk membangun pemahaman mengenai ‘keuangan berkelanjutan’ dan ‘energi terbarukan’, yang berkaitan dengan transisi energi dan investasi energi terbarukan dengan menghadirkan Narasumber yang kompeten di bidangnya baik nasional maupun internasional.

Kelas ini terbuka untuk seluruh level staf dan divisi pada Lembaga Jasa Keuangan maupun Regulator terkait, dan kami yakini bahwa kelas ini akan memberikan pemahaman dalam subsektor energi terbarukan, baik itu terkait dengan kebijakan dan regulasi, proses bisnis energi terbarukan, aspek keberlanjutan, dan lain-lainnya; yang pada akhirnya dapat mengubah mindset pesimis menjadi optimis dalam meningkatkan investasi dan pembiayaan pengembangan energi terbarukan, sehingga dapat turut berkontribusi pada pencapaian target bauran energi yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia.

BPSDM ESDM sangat mengapresiasi seluruh stakeholders dan peserta yang ikut berpartisipasi dalam Kelas Keuangan Berkelanjutan ini, dan semoga kegiatan ini dapat berlangsung secara berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang. Apresiasi besar disampaikan juga untuk seluruh peserta sektor jasa keuangan dan regulator yang telah lolos seleksi untuk mengikuti program. Prahoro myampaikan,” para peserta untuk memanfaatkan waktu belajar dan ruang jejaring ini sebaik-baiknya agar memberikan manfaat yang optimal terhadap tujuan utama diselenggarakannya kelas ini. Manfaatkan ilmu yang didapatkan untuk mendukung transisi energi dan peningkatan investasi energi terbarukan di Indonesia. Peranserta dan kontribusi kontribusi Anda diiringi kerjasama diantara pemangku kepentingan untuk mewujudkan target bauran energi terbarukan di tahun 2025”, tutupnya.

Pada kesempatan yang sama Laode Sulaeman, Kepala PPSDM KEBTKE, menyambut responsif dengan rencana kegiatan kerja sama antara PPSDM KEBTKE dengan  WWF Indonesia dalam mendorong tumbuhnya utilisasi energi terbarukan melalu berbagai format pendanaan dan investasi. Harapan kami melalui kegiatan ini akan menghasilkan SDM yg lebih inovatif khususnya terkait Financing Scheme pengembangan energi terbarukan, imbuh Laode. Menghadapi Tahun 2021, PPSDM KEBTKE akan sinambung membuka jejaring kerjasama dengan seluruh Mitra nasional dan internasional untuk bersama-sama membangun sumber daya manusia Indonesia yang berkompeten dan tangguh.

PPSDM KEBTKE berkomitmen dan mendukung, pada zona Integritas untuk menuju WBK (Wilayah Bebas Korupsi) dan WBBM (Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani). Melalui “GOOD GOVERNANCE AND CLEAN GOVERNMENT”, ragam upaya peningkatan layanan dilaksanakan di semua lini.

PPSDM KEBTKE siap melayani kebutuhan pengembangan sumber daya manusia bidang ketenagalistrikan, energi baru, terbarukan dan konservasi energi.

PPSDM KEBTKE TANGGUH PENUH ENERGI!

kerja CEPAT, CERMAT, PRODUKTIF

(SA)

 


Penerbit : sri asih - 2020-12-04 12:48:53
© 2018 Esdm - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. All rights reserved.