PPSDM KEBTKE Gelar Webinar Potensi Agri-Fotovoltaik di Sektor Pertanian bersama Tenaga Ahli Swiss  

PPSDM KEBTKE Gelar Webinar Potensi Agri-Fotovoltaik di Sektor Pertanian bersama Tenaga Ahli Swiss  

PPSDM KEBTKE Gelar Webinar Potensi Agri-Fotovoltaik di Sektor Pertanian bersama Tenaga Ahli Swiss  

 

 

JAKARTA, 27 Maret 2024—Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) bekerja sama dengan Swiss State Secretariat for Economic Affairs SECO melalui Proyek Renewable Energy Skills Development (RESD) menyelenggarakan webinar internasional berjudul “The Potential of Agri-Photovoltaics to Maximise Fruits and Crops Production – Experiences from Switzerland” dengan menghadirkan tenaga ahli Jocelyn Widmer selaku Peneliti Utama agri-fotovoltaik dari Agroscope, yaitu pusat keunggulan riset pertanian di bawah Pemerintah Federasi Swiss. Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, industri, dan pemerintah mengenai peran dari potensi dari agri-fotovoltaik sebagai suatu alternatif teknologi energi terbarukan yang dapat digunakan untuk mendukung program transisi energi di Indonesia. Acara diikuti oleh lebih dari 500 peserta, baik dari kanal Zoom maupun YouTube. Kegiatan webinar ini merupakan bagian dari seri webinar energi terbarukan antara PPSDM KEBTKE dan Proyek RESD yang diselenggarakan setiap dua bulan.

Dalam kata sambutan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) yang diwakili oleh Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Susetyo Edi Prabowo menyampaikan, “Fotovoltaik, atau lebih dikenal sebagai panel surya, telah mengubah lanskap energi global, namun potensinya dalam pertanian belum sepenuhnya dieksplorasi. Dengan bergabungnya teknologi fotovoltaik dengan praktik pertanian, kita dapat membuka peluang baru yang menarik untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan produksi pertanian.”

Narasumber Jocelyn Widmer menyebutkan bahwa saat ini terdapat tiga teknologi agri-fotovoltaik, yaitu interspread PV arrays, di mana panel surya dipasang di antara tanaman; greenhouse mounted arrays, di mana panel surya dipasang di atas rumah kaca; dan stilt-mounted PV arrays, di mana panel surya dipasang di atas tanaman dengan jarak yang cukup tinggi. Kelebihan dari aplikasi agri-fotovoltaik di Indonesia adalah tingkat radiasi sinar matahari yang tinggi, namun diperlukan investasi yang cukup besar untuk pemasangannya. Di Swiss, beberapa beberapa proyek percontohan antara pemerintah dan pengusaha buah-buahan telah menunjukkan hasil yang positif untuk buah raspberry terkait kualitas buahnya dan juga penyediaan listrik.

 

“Berdasarkan pengalaman di Swiss, guna memastikan kesuksesan penerapan agri-fotovoltaik untuk optimalisasi tumbuhan maupun penyediaan listrik, diperlukan peraturan pemerintah yang jelas dan kolaborasi yang erat antara petani, lembaga riset maupun peneliti yang memiliki pengetahuan teknis agri-fotovoltaik, dan juga sektor swasta,” ucap Jocelyn.

Beberapa tanaman pangan di Indonesia yang dapat menggunakan teknologi agri-fotovoltaik antara lain jagung dan kacang-kacangan. Dalam pemilihan tanaman atau buah-buahan, perlu dipastikan bahwa tanaman tersebut tergolong high added value crop, ditanam pada lahan yang luas, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap bayangan. Selain itu, teknologi agri-fotovoltaik juga bukan saja bisa diterapkan di atas lahan pertanian, namun juga di atas akuaponik.(Sa)